Sebuah Gambar by Farah Zolla

Aku membawa dua buah buku ke teras. Buku-buku itu direkomendasikan oleh suami. Katanya, buku pertama berisi tentang kisah hidup seorang anak yang pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap mengganggu. Sampai anak tersebut menemukan sebuah sekolah yang pas untuk dirinya.

Buku kedua bercerita tentang perjalanan penulis menjadi duta UNICEF ke berbagai tempat, di mana banyak anak-anak yang menjadi korban peperangan kelaparan, tidak bisa berobat, tidak punya pakaian yang layak, dan sebagainya.

Buku-buku mengenai kemanusian, kisah hidup perjalanan seseorang, warna-warni kecerdasan anak, adalah buku-buku yang sering kubaca.

Sudah beberapa hari buku itu tergeletak, karena memang belum ada kesempatan untuk membacanya. Dan hari ini, saat anakku yang berumur tujuh belas bulan tidur, aku membawa buku-buku itu ke teras rumah. Mencoba untuk membaca lembar demi lembar.

Helaian pertama kubuka, kisah hidup penulis yang dikeluarkan dari sekolahnya. Saat itu, gadis kecilku yang masih berumur lima tahun meraih buku kedua yang berisi perjalanan penulis ke berbagai negara tempat anak-anak banyak menjadi korban. Dia membuka lembaran demi lembaran.

Tidak apa. Putri kecilku memang demikian. Suka belajar. Walaupun sebenarnya dia belum bisa membaca. Namun, dia begitu suka dengan buku dan pena.

Bab satu tuntas kubaca. Tiba-tiba putri kecilku mendekat, memperlihatkan sebuah gambar di buku yang dari tadi dia bolak-balik.

"Bunda. Ini gambar apa?" tanyanya sambil menunjuk sebuah gambar.

Ah, aku tidak tahu ternyata buku itu ada gambarnya. Gambar seorang anak yang kurus kering. Seluruh badannya hanya kulit membalut tulang.

Kubuka lembaran-lembaran lain. Ada banyak gambar anak yang terlihat seperti itu. Ada yang tergeletak, ada yang masih bisa berdiri. Semuanya memperlihatkan betapa prihatinnya anak-anak itu di sana.

"Aisyah takut lihat gambarnya?" tanyaku pada putriku yang sudah terlanjur melihat gambar-gambar itu dan dijawab olehnya dengan sebuah anggukan.

"Ini anak-anak yang sedang kelaparan, Nak. Kita tinggal di sini. Bisa tidur enak, punya pakaian yang layak, punya makanan. Sedangkan di luar sana …," jelasku sembari melemparkan telunjuk jauh ke depan sana. Menyiratkan suatu tempat yang jauh.

"... banyak anak-anak yang sedang kelaparan. Begitu laparnya, mereka tampak seperti gambar yang ada di buku ini. Kurus. Bahkan mereka tidak bisa berobat jika sakit. Tidak ada pakaian yang layak. Mereka seperti itu karena ditindas oleh negara lain. Atau karena perang yang tidak berkesudahan." Aku melihat wajah putriku. Masih ada sesuatu terlihat dari wajahnya.

"Aisyah gak kuat lihat gambarnya?"

Putriku mengangguk.

"Kita lipat saja gambarnya, ya."

"Kenapa?"

"Karena bunda juga tidak kuat melihat mereka. Kasihan. Seandainya bunda punya banyak uang, detik ini juga bunda akan terbang ke tempat mereka, membawakan makanan, pakaian dan juga obat-obatan. Setelah dari sana, bunda akan pindah ke tempat lain, dan terus ke tempat lain. Tapi, bunda belum bisa. Oleh karena itu, kita bisa mengirimkan doa untuk mereka. Semoga Allah mengangkat kelaparan dan berbagai macam bentuk penderitaan dari mereka."

Lagi, putriku mengangguk.

"Jadi, kalau ada makanan di rumah, jangan mubazir. Karena, sebutir nasi itu berharga untuk mereka. Jika kita belum bisa membantu yang jauh, kita lihat disekitar kita. Apa ada yang membutuhkan?"

Ah, dadaku sesak menceritakan ini semua kepadanya. Apakah dia mengerti? Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini. Semoga saja obrolan ini, bisa menjadikan hatinya lembut. Peka terhadap orang-orang disekitarnya.

"Aisyah mau bantu bunda lipat gambar-gambar yang lain?" tanyaku pada putriku.

"Mau," jawabnya.

Kemudian, aku tinggalkan dirinya dengan buku itu karena hendak salat. Dan sepertinya tidak ada lagi rasa takut terhadap gambar-gambar itu. Karena, dia tetap membolak-balik halaman demi halaman buku itu.

Mukomuko, 21 Agustus 2020

https://www.facebook.com/groups/480240702467223/permalink/919948278496461/

Comments

loading...